Travel & Review Blog

Dieng: Travelling Pelarian di Tahun “Hectic” (Part-1)

Dieng: Travelling Pelarian di Tahun “Hectic” (Part-1)

Sebuah dataran tinggi yang terletak di dua kabupaten sekaligus, Kabupaten Wonosobo dan Kabupaten Banjarnegara, dengan iklim yang seringnya berubah-ubah baik di siang hari ataupun malam hari, akan menyuguhkanmu pemandangan yang sungguh apik dan tidak akan membuatmu enggan ‘tuk kembali lagi kesini.

 

Suasana daerah Dieng

 

Pertengahan tahun 2014 merupakan tahun yang hectic bagi saya dan teman-teman seangkatan saya karena sedang sibuk-sibuknya mengejar progres Tugas Akhir (TA) di tahun keempat kami kuliah. Di tengah rasa suntuk dan pusing tersebut, tiba-tiba terbesit dalam benak saya…

 

“Eh, mau ke Dieng nggak?”

 

Ujar saya secara impulsif ke teman saya yang saya lupa tepatnya siapa yang saya ajak duluan hahaha. Alhasil sudah ada tiga orang yaitu Saya, Edo, dan Uti. Mulailah buat grup chat Line, cari referensi (transportasi, destinasi, budget, makanan khas, dll) dan setelah ini itu akhirnya sudah final bertambah dua orang yaitu Mente dan Anet. Kami berangkat dari Bandung sore hari.

 

19 Juni : Bandung – Wonosobo
Berdasarkan banyak referensi yang kami baca, dari Bandung menuju Wonosobo transportasi yang paling mudah dan murah adalah bis. Harganya ada di kisaran 60rb – 100rb (tergantung kelas dan fasilitas yang didapat). Sore sekitar jam 4 kami sudah berkumpul di Simpang Dago untuk naik angkot menuju Terminal Cicaheum. Perjalanan naik angkot sekitar 30menit dan begitu sampai kami langsung beli tiket di counter penjualan tiket. Kami memilih Bus Budiman dengan harga tiket 70rb. Oh iya 70rb ini sudah include dengan makan satu kali selama perjalanan ya. Selama perjalanan ya diisi hanya dengan ngobrol, buka-buka Google Map, dan tidur ^^

 

20 Juni : Wonosobo – Dieng
Kami tiba di Terminal Wonosobo kurang lebih pukul……saya lupa persisnya, sekitar jam 3 pagi atau malah setengah tiga. Terminal sangat sepi……..dan kami pun bingung harus melangkah kemana. Beruntunglah ada seorang bapak paruh baya randomly lewat (kayaknya sih udah biasa disana da si Bapak teh). Tanya punya tanya terjawablah bahwa mikrobus yang akan ke Dieng itu naiknya dari Alun-alun Wonosobo, dan dari Terminal ini kita perlu naik mikrolet lagi menuju ke alun-alun tsb, dan mikrolet ini datangnya like jam 4 atau jam 5 gitu. Whew~ mesti nunggu agak lama enaknya ngapaen neh~
 
Lanjut bobok di bangku. Itu salah satu hal yang Anet lakukan. Nampaknya Ia terinspirasi dari Bapak-bapak yang sedang khidmatnya bobok di salah satu sudut terminal.
 
Anw, mikrolet datang sekitar jam 4 lebih dan kamipun segera tanya-tanya dan naik dengan semangat. Sang supir bilang “Iya nanti ke alun-alun, tapi tunggu agak ramean ya soalnya kalau cuma berlima gak langsung berangkat. Penuhnya paling jam 5an gitu mas” (Translated from Bahasa Jawa ya ini ehe). Semangat kami memudar setelah diberitahu kalau mesti nunggu lagi.
“Tapi kalau mau langsung berangkat sih ya gakpapa, tapi jadinya seorang 5rb ya.”
 ^sengaja di-quote-in wk
Bagai angin segar kamipun meng-iya-kan. Kami kembali semangat. Ujung-ujungnya perorang 4rb sih, mungkin beliau iba melihat kita. (FYI tarif normalnya 2rb).
Tiba di alun-alun hampir jam 5 dan mikrobus yang kami maksud tadi ternyata udah hampir penuh. Wiw nyaris terlambat. Tag tempat dan kami izin subuhan sebentar. Kira-kira 10menit setelah kami subuhan mikrobus kamipun berangkat~
Selama perjalanan, yhaa…berkabut. Ya gimana ya itu pagi hari dan otw dataran tinggi gitu mana ada gak berkabut. Setelah sampai di sebuah titik somehow kabutnya gone, dan wowwww kami melihat jajaran perkebunan, terasering, dan desa-desa kecil di bagian bawah. Bikin mata seger banget.
Daerah Dieng. Foto diambil oleh teman saya, Anet.
 
Dan sampailah kami di so-called “Pertigaan Bu Djono”. Kenapa namanya begitu, karena disitu ada Penginapan Namanya Penginapan Bu Djono hahaha. Katanya sih ada sejarahnya sendiri, saya agak lupa, monggo googling kalau tertarik dengan trivia tsb, pasti ntar nemu deh ^^
 
Singkat cerita, kamipun memutuskan untuk menginap di sebelahnya Penginapan Bu Djono wk saya lupa namanya. Tapi tempatnya cozy, yang punya ramah dan enaken kok. Kamarnya ada beberapa di lantai 1, banyak di lantai 2, dan ada 2 lagi di lantai 3. Di lantai 1 ada kamar mandi dan tempat makan juga. Kamipun memesan 1 kamar berisi 2 kasur, karena kita ada cowok dan cewek….ya Allah bukan muhrim maafkan hamba, kami cuma bobok dan tidak saling berhadapan kok (malah diperjelas).
Anw istirahat bentar dan hujanpun turun lalu kami memutuskan sarapan dulu, berharap seusai sarapan cuaca membaik.
 
Untungnya sekitar jam 9 hujannya reda. Tapi tetep mendung. Was-was banget lagi enak-enak muter tiba-tiba diguyur hujan. Akhirnya memberanikan diri jalan daripada cuma ngejogrok di pojokan kamar. FYI, cuaca di Dieng ini emang sering gini, mendung-mendung syahdu, atau cerah terus tiba-tiba sekumpulan air ambyar dari awan di atas sana a.k.a hujan~
Suasana sepanjang perjalanan (mendung syahdu)
Take a minor selfie won’t hurt, right? (ki-ka: Anet, Mente, saya, Uti, Edo, Terpal+pasir)
Kita gaktau kan mau mulai darimana, terus yaudah soktau aja jalan ngikutin papan petunjuk. Pokoknya dari arah Wonosobo, di pertigaan Bu Djono ke arah kiri. Kita jalan kaki karena sepenglihatan kami ngga ada angkutan umum. Kalau naik ojek barangkali mahal. Yaudah kita cus aja sampai ada papan petunjuk yang merujuk pada area wisata. Harga tiket terusan 18rb/orang, termasuk di dalamnya ada Telaga Warna, Telaga Cermin, Kawah Sikidang, dan lain-lain yang ujung-ujungnya gak semua bisa kami sambahin.
 
Setelah beli tiket, kita lewat jalan yang…agak aneh karena gak ada papan atau sejenisnya (kayaknya jalan potong) dan sampailah kami di sisi lain Telaga Cermin (bukan yang biasanya dijadiin spot foto oleh khalayak umum).
Tiba di sisi lain Telaga Cermin
Setelah sedikit berfoto disana, kami melanjutkan perjalanan menuju Telaga Cermin dan Telaga Dua Warna. Si Telaganya bagus siah, warnanya cenderung tosca dan tenang~ tumben-tumbennya saya suka, biasanya gak suka sama perairan luas ehe. Anw, di sekitaran Telaga Warna ini ada hutan-hutan yang bisa dimasukin buat muter-muter, di dalamnya juga ada goa yang katanya bekas tempat bertapanya seorang tokoh (yang lagi-lagi saya lupa siapa).
Di tengah hutan jalan setapak~

 

Foto fake ala-ala di pinggir danau
Selepas dari Danau, tak jauh dari situ ternyata ada Theater buat nonton sejarahnya Dieng. Harga tiketnya 5rb/orang, dan karena kita tidak terlalu tertarik akhirnya kita cuma nongkrong di deket theater sambil beli Kentang+Jamur yang dibandrol dengan harga 20rb/bungkus. Btw di Dieng banyak perkebunan kentang, dan kentang goreng yang dijual ini adalah hasil dari perkebunan mereka sendiri.
 
Selepas makan, kami bertanya-tanya tentang keberadaan tebing yang katanya bisa kita naiki untuk melihat pemandangan bagus dari atas sana. Katanya sih bisa lihat telaga dua warna bersebelahan langsung. Setelah cari-cari ternyata lokasinya gak jauh dari sekitaran belakang theater tadi. Jadi di area parkirnya ada jalan kecil buat masuk menelusuri hutan kecil dan nanti tiba di perkebunan dan ada jalur untuk naik ke atas tebing.
 
Setelah jalan beberapa menit, ternyata buat naik kesana ditarif 3rb/orang. (Dalam hati ngomong, “oh mungkin udah lumayan terkenal kali ya sampai dikasih tarif sendiri”). Dan begitu sampai atas emang bagus banget sih. Untungnya juga mendungnya gak parah, dua warna dari telaga yang bersebelahan itu pun nyata jelas huhu ku terharoe.
Eh ada danau kelihatan neeeh~
Karena saya gak photogenic jadi saya kasih Uti saja yang nampang wk
Setelah lelah berfoto di atas, kamipun beranjak ke destinasi berikutnya yaitu Kawah Sikidang!
anw di Kawah yang ini kami datang udah lumayan sore karena perjalanan dari area Theater Dieng sampai ke Kawah lumayan jauh (ingat, kami jalan kaki).
 
Sampai sana yaudah sepi aja, lagi gak terlalu berasap juga btw, dan gerimis lucu. Warung-warung udah pada tutup jadi gakbisa beli minuman atau jajanan ehe.
Sudah mulai sepi, tapi tetap lebih sepi hatique :’)

 

Area Kawah Sikidang

 

Noraque and Fail at its best

 

Ready….Set…..

 

Blow! (ke-fail-an yang hqq. Kalau kata Uti, “Wibawa lo ilang Ris dengan adanya foto ini.”

 

dan setelah berkeliling, kamipun kembali ke penginapan (ya, dengan jalan kaki) menyusuri kebun-kebun warga (sok ide cari jalan pintas) kemudian beristirahat untuk menyimpan tenaga kami naik ke Gunung Prau esok dini hari!!!
 
Part 1 selesai –> Lanjut Part 2
Share it via :


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.