Travel & Review Blog

Dieng: Keindahan Gunung Prau (Part-2)

Dieng: Keindahan Gunung Prau (Part-2)

Secercah cahaya kuning perlahan menyeruak dari balik awan yang gelap. Udara dingin perlahan berubah sedikit menjadi lebih hangat. Diiringi angin lembut yang berhembus pelan melalui sela-sela rambut dan jemari. Sungguh indah lagi menenangkan, menikmati pagi hari di puncak Gunung Prau.

Setelah selesai dengan segala kegiatan, kami berlima pun makan malam di lantai 1 pada penginapan yang kami tumpangi. Di tempat dingin begini apalagi yang enak kalau bukan mie rebus atau bakso hangat hehe, sepakat?
Tadinya mau nyoba mie ongklok yang katanya menu khas di daerah Wonosobo itu tapi apadaya sedang tak ada, mau cari keluarpun hujan tampak sudah turun kembali.

 

“Terus besok rencananya kemana nih?”

 

Pertanyaan tersebut akhirnya muncul di forum kami. Ada dua pilihan bagi kami, yaitu lihat sunrise di Bukit Sikunir atau naik ke puncak Gunung Prau. Masing-masing ada plus minusnya. Minusnya kalau ke Sikunir mesti sewa kendaraan lagi kesana karena lumayan jauh (even jalan kaki pun kayaknya ya gak di jam-jam segitu juga, alasannya? hmm temukan di artikel dibawah ini :
Baca juga: Pengalaman Kedua ke Dataran Tinggi Dieng!

Setelah berdiskusi dengan Bapak pemilik penginapan, akhirnya kami semua sepakat akan mendaki Prau pada dini hari nanti. Kalau kata Mente, “ya sayang aja kita udah sampai sini tapi nggak sekalian kesana.”
Yeah, you got it right. Akhirya, setelah kesepakatan tsb, kami membeli perlengkapan yang kiranya berguna seperti sarung tangan (ini lumayan sih untuk menghalau sedikit udara dingin), sari roti coklat (untuk di perjalanan atau saat di puncak), air mineral (ya jelas lah ya…), dan lain-lain yang dibutuhkan masing-masing. Setelah selesai dengan itu semua, kami membeli semacam tiket masuk untuk ke kawasan Prau dengan per-orang dikenakan tarif Rp4000,-
Oh iya, anw ada satu orang lagi yang join dengan kita untuk naik Prau. Saya lupa nama beliau siapa, beliau sendirian (cie solo traveller), dan lagi cuti dari pekerjaan seingat saya. Kalau kamu kenal atau mungkin Anda (si laki-laki tsb) end-up membaca ini, kasih tau namanya ya biar tulisan ini saya revisi ehe.

So, akhirnya sekitar jam 9an kita beristirahat untuk mengumpulkan stamina dan supaya bisa bangun pagi besok. Rencana kita berangkat sekitar pukul setengah dua pagi, karena perkiraan perjalanan hingga ke atas sana memakan waktu 3 jam. Satu yang kami khawatirkan adalah, cuaca. Ya, sampai dengan kami hendak tidur, kami masih mendengar suara gemericik hujan di luar.

Makan malam terakhir kami di Dieng kala itu

21 Juni : Otw Gunung Prau
Waktu sudah menunjukkan pukul 2 pagi. Saya dibangunkan oleh teman saya untuk lekas bersiap. Waktu itu kami berenam sudah siap dan si Bapak pemilik penginapan pun sudah siap mengantar kami. Nganter sampai puncak Prau. Hee ngga deng, nganter sampai di….kira-kira mungkin sekitar 400 meeter dari penginapan….oke.
Satu hal yang sangat disyukuri adalah….hujannya sudah reda! Alhamduillah…

 

“Nah, nanti dari sini mah lurus-lurus aja mas, mbak. Jalannya nggak susah kok. Kalau nemu simpangan, pilih aja yang jalannya lebih nanjak”

 

Like, it was the one and only clue he gave to us that night. Iya pak baiklah 🙂
Anw, dengan berbekal stamina, doa, kebersamaan, dan senter, kami pun beranjak perlahan.
“Hati-hati ya,” ujar si Bapak. Kami meng-iya-kan dan meneruskan perjalanan berenam.

Selama perjalanan, karena gelap dan tidak lumrah juga untuk berisik di tengah hutan pegunungan, kami tidak banyak bicara atau tertawa. Sesekali berhenti untuk duduk, meneguk minuman, atau menunggu pendaki lain di depan kami. Salah satu hal yang cukup bikin lega adalah bertemu dengan rombongan lain saat di tengah-tengah jalan. Nampaknya mereka juga anak kuliahan, dari Jawa nampaknya. Kami hanya saling memberi salam dan tersenyum (yang hampir pasti gak kelihatan since itu gelap dan senter kita cuma 2). Anw bertemu rombongan lain emang beneran bikin “alhamdulillah ada temen” banget ya nggatau kenapa, padahal di samping kita juga ada teman yang selalu siap :’)

Salah satu check point adalah Tower. Tower ini merupakan indikasi bahwa puncak sudah tidak terlalu jauh (Bapak penginapan said). Jalan sedikit setelah melewati Tower kami menemukan Camp Ground. Hmm ternyata lumayan banyak juga yang mendaki dan nge-camp disini. Dari sini juga city light udah kelihatan tapi kami melanjutkan jalan karena disini belum puncak. Dari camp ground ini jalannya turun dulu, kemudian datar, baru naik lagi.

Citylights yang (memang) blur ehe

Sampai di tengah-tengah kita bingung, “lah ini puncaknya dimana sih” wkwkwk bingung karena katanya nggak jauh tapi kok kayak never-ending. Rombongan lain juga gak tampak selama di jalan yang kita lewatin. AKhirnya karena udah jam 5 lebih dan sunrisenya udah mulai muncul dikit-dikit, kamipun memutuskan untuk menaiki bukit tertinggi yang paling dekat dengan kami.

Sampai atas sholat subuh dulu sambil nunggu matahari muncul. Wow, dinginnya jos. Anginnya juga lumayan kencang. Hmmm mantap sudah, wudhu dengan air mineral yang sudah dingin di jalan plus kena tiupan angin.

Beberapa menit kemudian matahari mulai muncul. Langit sudah mulai berubah warna. Hawa sudah mulai menghangat. Kabut perlahan mulai menghilang, dan…..pemandangannya :””’)
Dari situ sudah mulai terlihat jajaran-jajaran gunung lain. Ada Gunung Sindoro, Arjuna, Semeru, Merbabu, dan lain-lain yang bila ditotal ada tujuh (seingat dan setahu saya).

It’s coming! (Bonus: Planet Venus yang masih menampakkan dirinya)

 

yay!
Love the color 🙂
Tangan sapa neh ngerusak ae wk
Yang tahu/kenal pria bertudung,berkacamata,dan mengenakan sweater abu-abu itu kabari ya!
Us against the world! (lebay gela captionnya)

 

Sungguh pemandangan yang bikin adem banget. Adem di hati, di pikirann, dan di kulit tentunya 🙂
Setelah puas dengan matahari, pemandangan, dan sejuknya udara, kamipun segera bersiap untuk turun. Selama di perjalanan, baru terlihat ternyata kondisi kanan kiri kita seperti apa (ya soalnya tadi gelap kan dan gak sempet juga untuk toleh sana-sini.
 
Sepanjang jalan turun pemandangannya juga bagus-bagus ternyata. Greens everywhere and it was really shooting 🙂
Di jalan turun (lha tapi malah naik bukit). Taken by Mente (seinget saya)
Another photoshoot session. Muka aing ngajak ribut siah
Mendekati jalan turun. Awannya bagus menurut saya

 

Akhirnya kamipun sampai di penginapan dengan selamat. Waktu turun dari atas kira-kira hampir jam tujuh, daan….kami sampai di bawah jam sembilan. Berangkatnya tiga jam lebih, turunya cukup dua jam 🙂

Sampai di penginapan langsung disambut sama si Bapak penginapan, “gimana, jadi sampai atas tadi?” kayaknya dari gelagat dan senyum kami mungkin si Bapak juga udah tau jawabannya.

Kamipun segera beberes, antre mandi (oiya, kamar mandi luarnya ada dua saja). Airnya……bikin gak betah mandi lama-lama soalnya dingin banget ehe. Beberes, rapi, sarapan, dan karena itu hari Jumat maka saya jum’atan dulu, baru setelah itu kita berangkat menggunakan mikrobus yang sama seperti yang kita kemarin naikin. Oh iya, harga penginapannya 125rb/malam, jadi kami hanya bayar 25rb/orang hohoho.

Anw, sebelum naik bus tidak lupa kami membeli oleh-oleh khas Dieng yaitu Carica. Buah-buahan sejenis pepaya yang katanya cuma hidup di Dieng dan di beberapa dataran tinggi lain di luar negeri sana seperti Pegunungan Andes. Bentuk pohonnya mirip pepaya banget, tapi bentuk buahnya mirip buah coklat (tapi luarnya hijau). Rasanya manis (mungkin karena memang udah dijadiin manisan gitu kali ya). Warnanya kuning oranye. Dingin lebih nikmat (wk udah kayak motto segala jenis minuman kemasan).

Daaaan kami tiba di Wonosobo sudah sore. Awalnya kami langsung ke terminal dengan harapan ada bus yang berangkat sore, namun ternyata Bus Budiman yang kami tumpangi berangkat setelah maghrib. Hmm baikah mungkin Tuhan mengharapkan kami berkelana dulu di Wonosobo beberapa saat. FYI, waktu itu kami sempat sok ide “eh habis dari Dieng kita sikat ke Jogja juga aja apa ya??” (Balada kuliah tingkat akhir yang sudah tak ada kuliah, hanya tinggal rajin kerjakan TA). Namun wacana sekedar wacana, semua kandas karena gak bawa uang saku lebih ehe maklum mahasiswa 🙂

Alhasil kami muterin Wonosobo hanya untuk nyari Mie Ongklok enak ehehe laper neh siang belom makan. Berkat skill mencari informasi para perempuan, berangkatlah kami menuju Kedai Mie Ongklok Bapak Muhadi.
(Kalau kalian cari di Google Map, namanya Muhadi’s Ongklok Noodle)

Kedainya sederhana, ada gerobak sebagai tempat sang koki memasak dan meramu, ada kumpulan meja, kursi, dan kulkas juga…. (wk you don’t say). Dan kamipun memesan Mie Ongklok dan ada yang pesan Es Carica juga. Makanan datang dan kamipun segera makan. Suapan pertama….emmm…..eh ini enak sih!! Hangat, mie plus kuahnya cenderung kental dan kaya akan rasa. Aku sih yes. Oh iya dan ada satenya juga hihi.
Caricanya? Hmm….ya manis dan seger. Disediain di mangkuk dan dikasih es, jadi gak terlalu manis-manis amat seperti yang dijual dalam cup. Untuk ini aku juga yes.
Overall….8.5 out of 10. Great 🙂

Gundukan Mie Ongklok beserta sate
Es Carica (tapi nama mangkuknya Sambal)

 

Setelah puas makan kamipun kembali ke terminal setelah beberapa kali sok ide jalan kaki dan akhirnya ngangkot. Gak sih, sebenernya bukan sok ide jalan kaki, tapi ada bapak-bapak yang nyaranin jalan dulu sampai sekian meter ke suatu arah baru naik angkot heuheu.
 
Sampai terminal, maghriban sejenak, dan akhirnya kamipun naik bus dan mengucapkan selamat tinggal ke Wonosobo (dalam hati aja sih, yakeles norak dadah-dadah dari jendela). Di bus ya…bobok dengan tenteram aja 🙂
 
Sampai kembali di Bandung sekitar pukul 4 atau setengah 5 pagi, dan kamipun berpencar sesuai arah pulang masing-masing (gak sih, yang misah cuma Uti soalnya ada rumah di Bandung, sisanya kami berempat ngangkot ke Dago hehe).
 
Daannn berakhir lah perjalanan singkat namun terasa panjang ini bagi kami. Terima kasih Dieng untuk suguhan keindahannya, terutama untuk Gunung Prau yang sampai sekarang juga masih terlekat jelas di memori. Terima kasih untuk segala suguhan, pembelajaran, dan kenangannya 🙂
I surely am will come back again there someday.
Dan satu lagi, terima kasih kepada teman saya Tito Ariwibowo untuk pinjaman Go-Pro nya hehehe.
 
Oh iya, satu hal lagi. Jadilah pendaki yang bijak ya. Karena selama diatas sana kami ngga sedikit nemu beberapa sampah kecil seperti bungkus makanan, botol minum, dll. Bawalah kembali sampah kalian turun karena alam seperti gunung itu bukan sarana bagi kalian untuk dengan mudahnya meletakkan buangan kalian disana 🙂

**BONUS ITINERARY DAN BUDGET**

ITIN
19 Juni – 20 Juni :
16.30 – 03.00 : (Bandung – Wonosobo, Bus Budiman)
04.30 – 05.00 : (Terminal Wonosobo – Alun2 Wonosobo)
05.30 – 07.00 : (Wonosobo – Dieng)
07.00 – 09.00 : (Istirahat, cari penginapan, nunggu hujan)
09.00 – 17.00 : (Telaga Cermin, Telaga Warna, Theater Dieng, Tebing, Kawah Sikidang
hanya dapat segini karena jalan kaki. Kalau mau ke candi-candi lebih baik
sewa kendaraan juga)
17.00 – 18.00 : (Perjalanan balik dr Kawah Sikidang – Penginapan)
18.00 – bebas : (Istirahat, persiapan apapun)

21 Juni :
02.00 – 05.30 : (Trekking Gunung Prau. Bisa lebih cepat dengan medan dan stamina oke)
05.30 – 07.00 : (Nyantai di puncak)
07.00 – 09.00 : (Turun gunung)
09.00 – 13.00 : (Istirahat, sarapan, nyantai, dalam case saya plus Jumatan, kalau bukan
Jumat mungkin bisa nyambangin beberapa candi)
13.00 – 13.30 : (Cari oleh-oleh)
13.30 – 15.00 : (Dieng – Wonosobo)
15.00 – 18.00 : (Keliling Wonosobo, makan Mie Ongklok, balik terminal)
18.30 – 04.30 : (Wonosobo – Bandung. Kalau kalian notice, iya, perjalanan pulang lebih lama
dibanding berangkat gatau kenapa)
04.30 – bebas : (Otw pulang kostan, istirahat, dll)

BUDGET

Bus Budiman (berangkat)  : 70.000
Makan malam                       : 16.000
Tolak Angin                           : 6.000 (ini satu pack dibagi berlima)
Mikrobus Terminal-alun2  : 4.000
Mikrobus Wnsb-Dieng        : 15.000
Sarapan                                   : 10.000
Tiket terusan                          : 18.000
Tiket tebing                            : 3.000
Kentang+Jamur                    : 10.000 (beli sekian bungkus dibagi berlima ehe)
Makan malam                        : 19.000 (ini beli apa kok sampai segini…)
Kupluk + Sarung tangan      : 20.000 (ini opsional)
Persiapan Naik Prau             : 7.320 (Roti,Air,dll. Harganya ganjil soalnya beli di Indomaret dan sudah dibagi 5)
Karcis Gn.Prau                       : 4.000
Sarapan                                    : 12.000
Penginapan                             : 25.000 (sebelahnya Bu Djono, nanti saya update lagi)
Carica                                       : 55.000 (1 dus + 1 atau 2 botol saya lupa, ini opsional)
Mikrobus Dieng-Wnsb         : 15.000
Angkot                                      : 2.500 (menuju Kedai Pak Muhidi)
Mie Ongklok+Minum            : 24.000
Mikrobus                                  : 2.000 (menuju Terminal Wonosobo)
Angkot (dilanjut)                    : 2.000 (menuju Terminal Wonosobo)
Bus Wonosobo-Bandung      : 70.000

TOTAL : 409.820

Ingat, ini harga opsional ya. Jadi misal kalian gak beli oleh-oleh, atau udah punya kupluk dan sarung tangan bawa dari rumah, ya harganya bisa turun jadi cuma 300rb-an aja. Atau lain hal misal bawa oleh-oleh segeprok, atau kalap beli kupluk, sarung tangan, stik selfie (mungkin disana jual sekarang), dan makan-makanan yang harganya lumayan, ya bisa nambah lagi deh.
One thing to note, jalan-jalanlah bareng temen! Sure it will save many 🙂

Share it via :


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.