Travel & Review Blog

Review: Menjajal Roll Film Fuji Superia 200

Review: Menjajal Roll Film Fuji Superia 200

Fuji Superia 200 memberikan kesan klasik natural pada tiap sentuhan warnanya. Di siang hari menampilkan nuansa penuh warna namun tenang di malam hari. Salah satu pilihan roll film dengan harga yang terbilang murah namun memberikan hasil yang bikin ketagihan.

 

TENTANG FUJI SUPERIA

Belakangan ini (sebenarnya sudah agak lama sih wkwk), kamera analog, atau disebut juga kamera SLR, yang masih menggunakan roll film dan ‘kokang’an untuk mengambil foto demi foto mulai merambah atau menjamur di kalangan masyarakat kembali, khususnya anak-anak muda. Beberapanya bahkan ada yang membuat komunitas pecinta analog, adapula yang membuat komunitas penggiat fotografi analog. Dalam prosesnya, kamera analog membutuhkan asupan roll film sebagai alat yang merekam gambar di dalam kamera. Salah satu roll film yang kerapkali digunakan oleh banyak kalangan adalah produk Fujifilm yang dinamakan Fuji Superia.

Fuji Superia 200 merupakan salah satu roll film tipe negatif produksi dari Fuji yang cukup digemari penggiat analog. Di Indonesia sendiri, banyak para penggiat fotografi analog yang memulai filmnya dengan menggunakan Superia. Beberapa ada yang fresh, beberapanya lagi ada yang expired. Perbedaannya? Kalau fresh, warna yang dihasilkan akan tetap sama dengan default warna yang dibawa oleh roll film itu sendiri, sedangkan bila sudah expired, warna biasanya akan cenderung berubah karena faktor usia tersebut. Biasanya hasil foto akan menjadi lebih redup, dan agak keunguan/kebiruan, dan tentunya lebih banyak grain yang akan dihasilkan. Fuji Superia hadir dengan varian ASA 100, 200, 400, 800, dan 1600.

 

PENGALAMAN MENGGUNAKAN FUJI SUPERIA 200

Saya sendiri di awal-awal juga menggunakan Superia yang sudah expired karena menurut saya ketika awal-awal coba kamera analog lebih baik berlatih dengan film yang standar/biasa dulu, nanti kalau sudah mulai yakin boleh pakai yang fresh atau yang lebih mahal lagi seperti Kodak Ektar atau Portra. Oh iya, roll film yang sudah expired biasanya juga dibandrol dengan harga yang lebih murah dari harga yang fresh.

Kali pertama menggunakan kamera analog (tahun 2016), saya menggunakan Fuji Superia 200 expired tahun 2010 sebagai salah satu roll pertama saya. Dulu dibandrol dengan harga sekitar 40ribu – 45ribu via toko online (saya biasa beli di @socca_id silakan cek akun IG nya). Dengan bekal Nikon FM2 dan tangan yang lebih terbiasa dengan kamera DSLR, saya coba-coba hunting sendiri saat dulu saya masih bekerja di daerah Ambon.

Oh iya, saya mengetahui tentang kamera analog sebenarnya dari tahun 2013 (karena teman saya punya dan saya cukup tertarik melihat keapikan foto yang dihasilkan). Saya belajar tentang Nikon FM2 ini melalui manual book yang saya download secara online melalui tautan di google. Cukup mudah dicari kok, dan pengoperasiannya tidak sulit. Kesulitan yang saya alami adalah karena metode pemfokusan gambarnya musti manual, saya harus hati-hati karena saya menggunakan kacamata dan agak kurang yakin 100% bahwa foto yang saya ambil pada fokus yang tepat, jadi hampir seluruhnya perkiraan saja hehe.

Berikut beberapa hasil foto yang saya dapat selama hunting tersebut

 

 Pertemuan angkutan umum. (Ambon, 2016)
Pertemuan angkutan umum. (Ambon, 2016)

 

 Jembatan Merah Putih sedang dalam proses konstruksi. (Ambon, 2016)
Jembatan Merah Putih sedang dalam proses konstruksi. (Ambon, 2016)

 

 Kesendirian. (Ambon, 2016)
Kesendirian. (Ambon, 2016)

 

Ketiga foto diatas saya ambil menggunakan Nikon FM2 dengan lensa Nikkor 50mm/1.4. Adapun foto-foto diambil di tengah hari menuju sore, sekitar pukul 13.00 siang. Pada jam-jam tersebut ASA yang digunakan tetap mengikuti roll film yaitu 200. Karena menggunakan lensa dengan apperture maksimal 1.4,  saya terbiasa untuk selalu menggunakan dalam kondisi apperture maksimal tersebut yang dimana semestinya dalam kondisi apperture 2.8 keatas saja sudah cukup. Alhasil, saya hanya bermain di shutter speed. Pada kondisi diatas saya agak lupa tepatnya berapa, namun nampaknya berada di kisaran 1/800 – 1/1000 mengingat kondisi cahaya yang sedang terang-terangnya. Kalau masih agak sulit memperkirakan SS yang akan digunakan, pakai saja metode Sunny 16 hehe.

Pada kondisi terik matahari siang begitu, bisa dilihat warna yang dihasilkan Fuji Superia 200 expired ini masih apik. Hampir tidak terlihat adanya grain sama sekali (ini saya juga ngerasa wah sih wkwk). Warna yang ditonjolkan masih hidup. Saya suka dengan warna biru, hijau, dan oranye yang ditampilkan. Berwarna namun memberikan kesan tenang. Tidak mencolok. Selain itu, ada kesan foto yang dihasilkan lebih hidup (menurut saya saja sih ehehe).

Selain foto di siang hari, saya juga mengambil beberapa foto di jam-jam matahari tenggelam. Foto berikut saya ambil sekitar hampir pukul 18.00 dalam kondisi minim cahaya matahari (agak mendung sedikit).

 Menunggu yang tak kunjung hadir. (Ambon, 2016)
Menunggu yang tak kunjung hadir. (Ambon, 2016)

 

 Kapan kita kemana?. (Ambon, 2016)
Kapan kita kemana?. (Ambon, 2016)

 

 Jalanan yang cenderung sepi dengan rerumahan sebagai latar. (Ambon, 2016)
Jalanan yang cenderung sepi dengan rerumahan sebagai latar. (Ambon, 2016)

 

Kalau dilihat-lihat, warna biru yang di siang hari tampak lebih muda dan tenang, berubah menuju keunguan ketika sore hari, bisa jadi dikarenakan frekuensi warna yang dihasilkan alam pada jam-jam tersebut memang dominan biru keunguan (karena menuju malam). Selain itu, warna hijau dan oranye masih tampak tenang dan enak dipandang menurut saya (lihat pada foto kedua). Foto-foto saya ambil masih pada hari yang sama dengan gear yang sama pula.

 

OPINI

Menurut saya pribadi, Fuji Superia 200 masih menjadi salah satu roll film kelas menengah yang masih menjadi favorit beberapa pengguna. Selain karena harganya, kesan warna yang dihasilkan juga tetap klasik dan “analog banget”. Secara warna, menurut saya warna yang cenderung dominan yaitu biru dan hijau. Untuk warna lain seperti merah, tetap menimbulkan warna khas dengan kelembutannya, begitu juga dengan warna oranye yang menjadi agak fading. Salah satu roll film bagus untuk pemula, cocok untuk dipakai foto jenis street photography, meski untuk jenis portrait atau tipikal landscape tetap bagus pula. Dengan harganya yang berada di kisaran 40rb-45rb untuk versi expired dan sekitar 60rb-65rb untuk versi freshnya, Fuji Superia bisa menjadi stock roll yang dibawa kemana-mana saat bepergian dengan membawa kamera analog.

Overall, highlight dari roll film Superia ini menurut saya adalah gaya klasik analog yang sederhana dan tidak berlebihan. Apik!

Selamat mencoba untuk kamu-kamu yang sedang baru menjajal kamera analog 🙂

Share it via :


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.